Kamis, 24 Januari 2013

MAKALAH TANGGUNG JAWAB DAN KEWIBAWAAN PENDIDIKAN




KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Makalah ini membahas tentang hubungan antara MANUSIA DAN LINGKUNGAN  serta pengaruhnya terhadap manusia dan diharapkan dapat memberi pengetahuan dan menambah wawasan bagi siapapun yang membaca makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan saran, maupun masukan-masukan guna penyempurnaan makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.
Akhir kata, kami meminta maaf apabila dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami akan berupaya selalu terbuka dan seobjektif mungkin terhadap kritik dan saran yang membangun guna mempertimbangkan di masa-masa yang akan dating.


















BAB I PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu bertujuan untuk, menjadikan manusia yang merdeka secara batin pikiran dan tenaganya atau merdeka secara lahir  dan batin. Dan dalam pendidikan tersebut diperlukan kewibawaan sebagai salah satu faktor yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya pendidikan tersebut.
Oleh karena itu maka kelompok kami disini akan membahas tentang Tanggung Jawab Kewibawaan Pendidikan.


2.      RUMUSAN MASALAH
a.       Kewibawaan sebagai alat pendidikan?
b.      Apakah Kewibawaan (gezag) itu?
c.       Bagaimana pendidik seharusnya menggunakan Kewibawaannya?
d.       Tanggung jawab ?
















BAB II PEMBAHASAN

1. Kewibawaan sebagai alat pendidikan
Sebagaimana telah dibicarakan pada bab terdahulu , kewibawaan adalah otoritas pendidik yang diterima dan diakui oleh anak didik secara sukarela , berdasar pilihan atau kehendak bebasnya, hingga menimbulkan rasa percaya . Otoritas pendidik itu dapat terwujud dalam perintah, tugas, anjuran, larangan, aturan dari pendidik yang ditunjukan kepada anak didik . bila perintah, tugas, anjuran, larangan, dan aturan itu diterima, diakui oleh anak didik secara sukarela berdasar pilihan atau kehendak bebasnya, maka timbulah kewibawaan pendidik.Dapat diungkapkan sebaliknya : pendidik yang berwibawa adalah yang otoritasnya (perintah,anjuran,larangan,dan aturannya) diterima, diakui, secra sukarela berdasar pilihan atau kehendak bebasnya, oleh anak didik. Singkatnya pendidik itu memiliki otoritas dan dipercaya.
2 . Motivasi sebagai alat pendidikan
Motivasi adalah dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu . Melakukan, kalau yang bersangkutan suka, berniat, atau menginginkan ; tidak melakukan kalau yang bersangkutan tidak suka, tidak berniat, atau tidak menginginkan. Motivasi penting sebagai alat pendidikan, karena hanya anak yang bermotivasi tinggi dan positive yang dapat mencapai tujuan pendidikan yang baik.
            Ada beberapa teori tentang motivasi , yaitu : (a) Teori kepuasan , yang meliputi : teori kebutuhan dari Maslow , teori x dan y dari dauglas McGregor , teori ERG dari Clyton Alderfer , teri kebutuhan dari Mc Clelland , dan teori motivasi-higiene dari Frederick Herzberg . (b) Teori proses yang meliputi : teori harapan teori penentuan tujuan , teori penguatan dan teori keadilan . Berikt ini masing-masing dijelaskan secara ringkas ( lubis, 2008: 16-28; Hook, 2006: 23-54 )
a.       Teori hirarki kebutuhan dari Moslow , yang menyebut lima tingkat kebutuhan manusia , dari yang paling dasar , yaitu (1) kebutuhan fisiologis , (2) kebutuhan keamanan , (3) kebuthan social , (4) kebutuhan pengakuan , dan (5) kebuthan keberhasilan . Manusia didorong atau termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar terdahulu , baru kemudian kebutuhan-kebutuhan di atasnya secara berturut-turut. Pada akhir hayatnya , Abraham Maslow menambahkan lagi satu kebutuhan lagi yang ke enam , yaitu kebutuhan spiritual.
b.      Teri X dan Y ,yang membedakan manusia menjadi dua tipe , yaitu (1) tipe X , yang malas , untuk dapat beprestasi harus dipaksa , dan (2) tipe Y , yang kreatif , suka bekerja , bertanggung jawab , tidak perlu dipaksa untuk berprestasi , untuk itu perlu motivasi berupa : mengikutsertakan dalam pengambilan putusan dan diperikan tantangan .
c.       Teori ERG , yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia tersusun secara hirarki mulai dari yang paling dasar : (1) existence ( eksitensi ) , untuk hidup , seperti makan , minum udara ,upah kondisi kerja , (2) Relatedness ( keterhubungan ) hubungan social , dan growth ( pertumbuhan ) . Kebutuhan yang lebih rendah menjadi dasar pencapaian kebuthan lebih tinggi dan kebutuhan yang lebih tinggi memperkuat kebutuhan yang lebih rendah .
d.      Teori kebutuhan menurut Mc Clelland , yang terkait dengan konsep belajar , yaitu (1) kebutuhan berprestasi ( need for achievement ) , (2) kebutuhan berkuasa ( need for power) , dan (3) kebutuhan berafiliasi ( need for affiliation ).
e.       Teori motivasi-higiene , yang menyebut dua factor motivasi , yaitu (1) dari luar (ekstrinsik) , yang menyebabkan tidak puas , yang terkait dengan hygiene ( kesehatan ) , seperti upah , jaminan kerja , status , pergaulan , dan (2) dari dalam ( intrinsik ) , seperti tantangan berprestasi , minat , tanggung jawab , aktualisai diri .





3.     Kewibawaan (Gezag) Dalam Pendidikan
1.      Apakah kewibawaan (Gezag) Itu?
Gezag berasal dari kata zeggen yang berarti ’’berkata’’.Siapa yang perkataanya mempunyai perkatan yang mengikat terhadap orang lain,berarti mempunyai kewibawaan atau gesag terhadap orang lain.
2.      Apakah Perbedaan antara Kewibawaan Orang Tua dan Kewibawaan Guru atau Pendidik-Pendidik Lainnya terhadap Anak-Anak Didiknya?
a.                   Orang tua (Ayah dan Ibu) adalah pendidik yang terutama dan yang menerima kodrat dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya.Oleh karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaan terhadap anak-anaknya.
orang tua memilki dua sifat:

1)      Kewibawaan pendidikan
Berarti bahwa dengan kewibawaan itu orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya agar hidup terus dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa.
2)      Kewibawaan keluarga
Tiap-tiap keluarga merupakan masyarakat kecil,yang sudah tentu dalam masyarakat mempunyai peraturan yang harus di patuhi anggotanya.Dengan demikian, orang tua sebagai kepala keluarga memiliki kewibawaan terhadap anggota keluarganya.


b.                  Kewibawaan guru atau pendidik-pendidik lainnya. Guru atau pendidik-pendidik lain (yang bukan orang tua)menerima jabatannya sebagai pendidik bukan dari kodrat ( dari Tuhan ), melainkan pemerintah.ia ditunjuk,ditetapkan,dan di beri kekuasaan  sebagai pendidik oleh Negara atau masyarakat.maka dari itu, kewibawaan yang ada padanya berbeda dengan kewibawaan orang tua.
3.      Bagaimana Pendidik Seharusnya Menggunakan Kewibawaannya?

a)       Dalam menggunakan kewibawaannya pendidik tersebut harus berwibawa,dengan kebijakan pendidik hendaklah anak harus dibawa ke arah kesanggupan memakai tenaganya dan pembawaannya yang tepat.Jadi, wibawapendidikan itu bukan memerintah anak, melainkan mengamati serta memperhatikan dan menyesuaikannya pada perkembangan dan perkembangan masing-masing anak.
b)      Pendidik hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri.anak diberikan kesempatan atau keleluasaan untuk melatih diri bersikap patuh.Jadi, dengan wibawa itu hendaklah pendidik berangsur-angsur mengundurkan diri sehingga akhirnya tidak di perlukan lagi.mendidik anak berarti membuat seorang anak bisa berdiri sendiri.
c)      Pendidik hendaknya menjalankan kewajibannya itu atas dasar cinta kepada si anak.jadi, bukannya memerintah atau melarang untuk  kepentingannya sendiri.Cinta itu perlu bagi pekerjaan mendidik. Sebab, dari cinta atau kasih sayang itulah timbul kesanggupan selalu bersedia berkorban untuk sang anak, selalu memperlihatkan kebahagian anak yang sejati.
4.     Tanggung jawab.
Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab menurut kamus besar Bahasa Indonesia W. J. S. Poerwadarminta adalah “keadaan wajib menanggung segala sesuatunya” artinya jika ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya. Tanggung jawab ini pula memiliki arti yang lebih jauh bila memakai imbuhan, contohnya ber-, bertanggung jawab dalam kamus tersebut diartikan dengan “suatu sikap seseorang yang secara sadar dan berani mau mengakui apa yang dilakukan, kemudian ia berani memikul segala resikonya”. Dalam artian lain, tanggung jawab meminjam istilahnya Bung Hatta adalah integritas individual.
Perlu menjadi perhatian utama, adalah bagaimana membentuk pola pikir anak agar pada suatu saatnya nanti mampu memiliki integritas – tanggung jawab – baik itu secara pribadi maupun dalam kehidupan kolektif, sebagaimana hal itu tercantum dalam definisi di atas. Dengan kata lain, tanggung jawab yang dimaksudkan disini adalah suatu investasi yang tak ternilai harganya, yang ditanamkan pada seorang anak demi masa depannya kelak. Dan penanaman tanggung jawab itu sendiri hanya dapat tercapai jika dijalani lewat proses pendidikan. Pendidikan disini bukanlah pendidikan sebagaimana pandangan konvensional yang mengatakan bahwa mendidik adalah urusan sekolah (institusi). Akan tetapi pendidikan yang saya maksudkan adalah pendidikan yang sebenar-benar pendidikan, yaitu pendidikan yang dilalui sepanjang hayat, yang dilakukan oleh orang tua semenjak kehadiran anak didunia, melalui transmisi kasih sayang, kepedulian, kepercayaan, emphati dan kesinambungan serta pengarahan secara spiritual.
Dengan demikian Humanisasi menjadi kenyataan, yaitu penciptaan iklim mendidik anak untuk menjadi manusia yang berbudi, memiliki jiwa, merdeka, mampu menghargai dirinya, dan mampu pula untuk memaknai akan makna penciptaannya didunia. Artinya pendidikan yang dimaksudkan disini tak lain merupakan suatu upaya memanusiakan manusia, dan tanggung jawab merupakan salah satu indikator keberhasilannya.









BAB III PENUTUP

4.1  KESIMPULAN
Kewibawaan pendidik mempunyai arti pendidik yang berwibawa adalah yang otoritasnya (perintah,anjuran,larangan,dan aturannya) diterima, diakui, secra sukarela berdasar pilihan atau kehendak bebasnya, oleh anak didik. Singkatnya pendidik itu memiliki otoritas dan dipercaya, atau dengan kata lain Siapa yang perkataanya mempunyai perkatan yang mengikat terhadap orang lain,berarti mempunyai kewibawaan atau gesag terhadap orang lain.












DAFTAR PUSTAKA
Purwanto Ngalim. 2009. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA          
Sudharto dkk. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang : IKIP PGRI SEMARANG PRESS
                                                                                      


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar